UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label go-green. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label go-green. Tampilkan semua postingan

Piring Yang Dapat Dimakan, Solusi Ramah Lingkungan

Diposting oleh Unknown on Sabtu, 07 April 2012



Kali ini, guyonan biasa di meja makan itu bukan lagi sekadar kelakar atau bercanda, tapi benar adanya. Serius, sekarang, makan sudah bisa dengan piring-piringnya sekalian. Karena, piring itu terbuat dari terigu yang sudah dimasak. Hmm.. kedengarannya yummy! 

Satu perusahaan di Taiwan telah memulai memproduksi peralatan makan yang terbuat dari bahan terigu, yang memungkinkan publik memakannya setelah menghabiskan makanan di atas meja. Kalaupun sudah kenyang, piring, gelas, ataupun mangkuk itu bisa direbus dan kemudian diberikan pada binatang piaraan. 

Terdengar menarik dan ramah lingkungan, bukan? 

Ide brilian itu dikembangkan Chen Liang-erh. Ia menciptakan piring dan peralatan makan yang bisa dimakan. Awalnya dibuat dari oatmeal atau bubur gandum. Dia butuh waktu yang tidak sedikit untuk trial and error. Tidak tangung-tanggung, Chen menghabiskan waktu hampir sepuluh tahun untuk riset dengan total biaya sekitar 1,48 juta dollar AS. 

Dari produk yang bentuknya biasa saja dan satu warna, kemudian berkembang menjadi lebih berwarna dan beragam sehingga tampak lebih menarik dan sekilas tidak akan tampak meyakinkan kalau bisa juga dimakan karena kemiripannya dengan piring biasa yang sering digunakan. 

Dari sebuah tulisan di Daily China News, perusahaan yang digawangi Chen awalnya berencana memproduksi sekitar enam juta “piring dan mangkuk lezat” itu dalam satu hari selama 18 bulan masa percobaan. Setelah hampir tiga tahun berjalan, produksi ternyata meningkat menjadi 14 juta item setiap hari. 

Sepertinya, piring yang bisa dimakan itu telah menarik perhatian publik, seolah menjadi bagian dari makanan penutup yang bisa digigit, dikunyah, atau ditelan. Kalau memang sudah kenyang dan tidak sanggup lagi, piring dan mangkuk itu bisa direbus dan menjadi makanan penuh nutrisi buat binatang piaraan di rumah. 

Kehadiran piring atupun mangkuk dari terigu dan gandum ini sepertinya akan segera menjadi hit. Setidaknya, beberapa waktu dulu, selalu ada masa ketika peralatan makan dari aluminium menggantikan posisi piring-piring yang terbuat dari logam, emas, ataupun perak. Makin berkembang, lalu ada piring dan mangkuk dari keramik dan plastik. 

Siapa tahu, beberapa waktu ke depan berikutnya adalah giliran peralatan makan yang praktis dan juga ramah lingkungan ini. Setidaknya, dia tidak lagi menjadi sampah yang dibuang ataupun memenuhi tempat untuk dibersihkan (dicuci). 

Selain dari gandum, ada juga yang terbuat dari maizena (tepung dari tanaman jagung), kentang, atau produk pertanian lainnya. Di samping baik untuk kesehatan, dimanfaatkannya bahan alami ini juga dinilai bisa turut menjaga lingkungan, karena kalaupun dibuang, masih mudah diolah dan menjadi kompos. 

Jadi, kalau satu kali ke restoran dan ada pelayan yang berkata, “Silakan makan, sekalian sama piringnya”, jangan lagi kaget. Siapa tahu, yang ada di atas meja, benaran bisa dimakan. Semoga harganya juga tidak dua kali lipat. rai/L-3]



Ramah Lingkungan 

Keberadaan peralatan makan yang bisa dilahap ini secara tidak langsung juga mengusung nilai tambah, yakni ramah lingkungan. Kebetulan, inovasi ini hadir di era ketika gaung gaya hidup hijau atau go-green sedang bergema. Setidaknya, peralatan makan ini akan mengurangi populasi sampah, sekaligus membuat lingkungan tetap bersih dan terjaga. 

Coba hitung berapa piring, mangkuk, atau gelas yang menumpuk saat satu event atau festival akbar digelar. Bagi yang pernah hadir di festival musik jazz ataupun festival besar lainnya, tentu pernah membayangkan betapa banyaknya publik membuang sisa makanan dan tempat makannya. 

Seorang bernama David Kupfer dalam tulisannya di sierraclub.org, pernah menyebutkan kalau warga Amerika itu membuang 60 miliar gelas, 20 miliar peralatan makan, serta 15 miliar piring untuk tahun 2001. Hanya sedikit sekali yang perhatian terhadap lingkungan, khususnya kalau itu festival go-green. 

Bagaimana dengan Indonesia? Belum ada yang memperhatikan ini. Tapi kalau pernah hadir dalam berbagai ajang festival, yang berlangsung tiga hari misalnya, pasti akan menemui tumpukan sampah (yang sebagian besar sisa makanan) di beberapa titik. Kalau dikalkulasi tidak bisa dibayangkan juga jumlahnya. 

Nah, dengan keberadaan piring dan mangkuk lezat ini siapa tahu bisa mengatasi masalah rumit mengenai lingkungan itu. Karena terbuat dari bahan yang alami, tentunya dia juga tidak berbahaya, dan kalaupun dibuang bisa menjadi kompos buat tanah. 

Bukankah dengan nilai tambah yang dibawanya, peralatan makan “ajaib” ini sekaligus telah menjadi pahlawan juga buat lingkungan serta manusia. Dia tidak lagi merepotkan untuk dicuci atau menumpuk di sudut ruang. 

Karena itu juga, rasanya perkembangan abad ke-21 tidak hanya bertumpu pada teknologi, tapi bagaimana juga mengusung bahan pertanian ke dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, sudah saatnya juga bidang agrikultur ini mulai dilirik sebagai ranah yang potensial, selain ranah digital yang sudah tidak bisa dibendung wabahnya. rai/L-3 

Fakta di Balik Gagasan Cerdas Itu

Selain berkembang di Taiwan, peralatan makan yang mencuri perhatian ini sebelumnya sudah juga menjadi perbincangan di berbagai kalangan, di sejumlah negara. Beberapa cerita dan kisahnya cukup menarik untuk diikuti. Berikut diantaranya.

• Sekitar tahun 1992, seorang insinyur dari Kanada bernama David Aung pernah mencoba menciptakan peralatan makan yang bisa dilahap dan ditujukan untuk ramah lingkungan. Dia membuat cangkir, mangkuk, piring, dan berbagai peralatan makan lainya dari sejumlah bahan alami, seperti gandum, jagung, terigu, beras, kedelai, dan tepung tapioka, atau ubi kayu. 
Dalam perkembangannya dia juga membuat varasi dengan dekorasi tambahan rasa, seperti cokelat, vanila, dan jeruk. Sayangnya, produk itu tidak pernah muncul ke pasaran, karena permasalahan kurangnya dana investasi dan pengembangan. 

• Di Polandia, Miller Jerzy Wysocki punya gagasan yang sama dengan membuat peralatan makan dari tepung terigu. Beberapa tahun yang lalu, dia mencoba membuat dengan 100 persen bahan dari alam, dengan produk berupa piring, mangkuk, dan cangkir. Tanpa bahan pewarna ataupun zat kimia. Namun, usaha penjualannya di sana tersendat, apalagi publik masih mengabaikan bahan organik ini. Tapi, dia tidak perlu berkecil hati, karena kemudian salah satu perusahaan supermarket besar di Inggris meliriknya dan ditawari untuk mengembangkan produksi, hingga termasuk pembungkus pizza bagi yang ingin dibawa pulang. 

• Sebuah perusahaan di Inggris bernama Potatopak mengembangkan pembuatan piring yang terbuat dari kentang. Dikenal dengan sebutan “piring kentang”, produk ini diyakini 100 persen ramah lingkungan tanpa racun dan zat kimia. Produksinya terbatas sejak tahun 1998. Selain peralatan makan, juga ada baki (nampan) dan panci. Kompetitornya hanya ada dua, yakni yang berada di AS dan Jerman. 

• Di Jerman, sejumlah cangkir dan mangkuk yang bisa dimakan (seperti wafer/waffle) kerap menjadi pelengkap yang sering disuguhi kala ada festival ataupun pameran. Biasanya sebagai tempat ditarohnya, kentang, saus, irisan pizza, crepes, dan es krim.

• Cobatco, sebuah perusahaan dari Illinois memproduksi mangkuk wafel untuk keperluan rumah atau bisnis. 

• Di Austria, Swedia, dan Jerman, perusahaan fast food McDonalds-nya menggunakan peralatan makan dari maizena (sejenis tanaman dari jagung) yang diproduksi dari Italia. Di samping itu, container es krimnya terbuat dari biscuit (cookie) untuk menggantikan yang sebelumnya terbuat dari plastik. 

• Di Amerika, ada Edibowls yang berlokasi di California Selatan, menjual enam mangkuk yang terbuat dari terigu, yang dibakar, dan renyah kala dimakan. Pasar mereka adalah kafe-kafe dan institusi. Disebutkan, seorang Professor Jay-Lin Jane, dari Iowa State University, yang mencoba mengembangkan peralatan makan yang bisa dilahap ini. 

• Duo Anne Bannick dan Lene Vad Jensen dari Denmark membuat peralatan makan dari terigu, maizena dan laktat asam susu, di bawah naungan Papcorns. Beberapa produknya, berupa sushi-set, piring, dan peralatan makan lengkap, hingga mangkuk.



http://www.kaskus.us/showthread.php?t=9645750

More aboutPiring Yang Dapat Dimakan, Solusi Ramah Lingkungan

10 Manfaat Jalan Kaki Bagi Kesehatan

Diposting oleh Unknown on Jumat, 06 April 2012


JALAN kaki sering dianggap sepele dalam kategori jenis olahraga.
Padahal sudah terbukti jalan kaki yang dilakukan secara rutin bisa mengatasi berbagai masalah kesehatan mulai dari migren, berat badan, masalah pernapasan, jantung, dan lain sebagainya.
Tahukah Anda, jalan kaki santai setidaknya 2-3 km per hari mampu mengatasi berbagai penyakit? Berikut 10 manfaat jalan kaki seperti dikutip dari Medicine:
- Menghindarkan dari diabetes tipe 2. Program pencegahan diabetes memperlihatkan, jalan kaki 150 menit per minggu akan mengurangi 7 persen berat badan Anda atau sekitar 7 kg. Lebih penting lagi mampu menurunkan penyakit diabetes hingga 58 persen.
- Memperkuat jantung pria. Dalam sebuah penelitian, tingkat kematian pada pria pensiun yang berjalan kaki kurang dari 1 mil per hari dua kali lebih banyak dibanding mereka yang  menempuh jarak 2 mil per hari.
- Memperkuat jantung wanita. Studi yang dilakukan pada 72.488 wanita memperlihatkan, jalan kaki 3 jam per minggu akan mengurangi risiko terkena serangan jantung atau jenis penyakit jantung lain.
- Baik untuk otak. Dalam studi tentang jalan kaki ditemukan, wanita yang berjalan 1,5 jam per minggu memiliki fungsi kerja organ kepala yang lebih baik daripada mereka yang hanya berjalan 40 menit per minggu.
- Baik untuk tulang. Riset memperlihatkan bahwa wanita menopause yang berjalan kurang lebih 1 mil per hari memiliki kepadatan tulang lebih baik daripada mereka yang  sedikit berjalan kaki, dan jalan kaki sangat efektif untuk menurunkan kehilangan massa tulang di bagian kaki.
- Mengurangi gejala depresi. Jalan kaki selama 30 menit, 3-5 kali per minggu selama 12 minggu, mengurangi gejala depresi.
- Mengurangi risiko kanker payudara dan kolon. Wanita yang berjalan secara rutin 65 menit hinga 135 menit per minggu bisa mengurangi risiko terkena kanker payudara dan kolon hingga 18 persen dibandingkan wanita yang tidak aktif. Studi memperlihatkan, olahraga dapat mencegah kanker kolon. Untuk orang yang telah terkena kedua kanker, olahraga mampu meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi angka kematian.
- Meningkatkan kebugaran. Jalan kaki 3 kali per minggu selama 30 menit dapat meningkatkan kebugaran dan sistem pernapasan secara signifikan.
- Jalan kaki singkat pun meningkatkan kebugaran. Studi yang dilakukan pada pejalan kaki wanita memperlihatkan, jalan kaki singkat sekitar 10 menit per hari pun punya efek buat kesehatan. Hasilnya akan terlihat pada peningkatan kebugaran dan pengurangan lemak di tubuh, kalau dilakukan hingga 30 menit per hari.
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=13829491

More about10 Manfaat Jalan Kaki Bagi Kesehatan

Wow! 'Earth Hour' Mampu Hemat 462 MW Listrik

Diposting oleh Unknown on Minggu, 01 April 2012


Jakarta
 - PT PLN (Persero) mengungkapkan program kampanye global 'earth hour' berhasil menghemat pemakaian listrik hingga 462 MW di Jawa, Bali dan Sumatera.

Menurut Senior Manajer Komunikasi Korporat PT PLN (Persero), Bambang Dwiyanto, program 'earth hour' atau pemadaman listrik yang dijalankan serempak Sabtu malam (31/3/2012) selama 1 jam dari pukul 20.30 sampai 21.30 telah menghemat pemakaian listrik jumlah besar.

“Beban listrik di Jawa Madura Bali (Jamali) turun sekitar 350 Mega Watt (MW) dan beban listrik di Sumatra turun sekitar 112 MW,” imbuh bambang dalam keterangan tertulisnya kepadadetikFinance, Minggu (1/4/2012).

Menurut Bambang, beban listrik (pemakaian) di Jawa Madura Bali (Jamali) pada hari Sabtu malam normal sebelum program 'earth hour' sekitar 17.516 MW dan pada saat Earth Hour tadi malam berada di kisaran 17.166 MW. Sedangkan beban listrik Sumatra normal di Sabtu malam sekitar 3.435 MW dan pada saat 'earth hour' tadi malam bebannya di kisaran 3.323 MW.

“Sedangkan penurunan beban di wilayah Indonesia Timur, saat ini masih dalam proses pengumpulan data karena sistem kelistrikannya tersebar dan isolated (terpisah-pisah) kecil kecil,” tegasnya. 

Dari program earth hour tadi malam itu, PLN merilis penghematan pemakaian listrik mencapai 462 MWh (Mega Watt hour) atau senilai Rp 508 juta, dengan asumsi rata-rata biaya produksi listrik adalah Rp 1.100/kWh.

Earth hour merupakan sebuah kegiatan global yang diadakan oleh WWF (World Wide Fund for Nature, juga dikenal sebagai World Wildlife Fund) dan diadakan pada Sabtu terakhir bulan Maret setiap tahunnya yang meminta rumah-rumah dan perkantoran untuk memadamkan lampu dan peralatan listrik yang tidak perlu selama satu jam untuk meningkatkan kesadaran atas perlunya tindakan terhadap perubahan iklim.



via detik
More aboutWow! 'Earth Hour' Mampu Hemat 462 MW Listrik

9 Resolusi untuk Jakarta di 2012

Diposting oleh Unknown


Jakarta adalah kota yang semakin termakan usia. Namun tahun baru selalu membawa semangat baru untuk menyelamatkan Ibu Kota kita tercinta.
Lingkungan Jakarta semakin sesak oleh polusi udara. Kemacetan, banjir dan masalah lingkungan hidup semakin parah. Kepadatan penduduk, wilayah kumuh, kesenjangan sosial dan ekonomi, kriminalitas, terus mengancam penduduk Jakarta.
Terinspirasi oleh dua belas resolusi yang diluncurkan di situs UN Habitat, lembaga PBB yang membidangi pemukiman penduduk, berikut 9 harapan, resolusi, menuju kota Jakarta yang lebih baik pada 2012.
Resolusi #1. Kurangi Pemukiman Kumuh
Urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi yang tidak dilandasi oleh prinsip kemanusiaan dan keadilan akan berdampak buruk. Ruang kota semakin padat oleh mereka yang berjuang mencari sesuap nasi. Kesenjangan sosial dan ekonomi semakin lebar. Pemukiman kumuh adalah cermin kesenjangan ini. Diperlukan pendekatan kesejahteraan juga perbaikan sistem tata ruang kota untuk memecahkan masalah sistemik di Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia ini.
Resolusi #2. Lebih Banyak Ruang Terbuka Hijau
Ruang terbuka hijau selain berfungsi sebagai tempat berekreasi anak-anak dan keluarga, juga bisa mengurangi polusi udara dan meningkatkan kualitas kesehatan fisik dan mental masyarakat. Selain dengan peraturan dan kebijakan, dibutuhkan komitmen politik yang kuat untuk mewujudkannya.
Resolusi #3. Meningkatkan Akses terhadap Air Bersih
Bukan rahasia lagi jika air tanah Jakarta telah tercemar oleh bakteri dan polutan yang membuatnya tidak layak minum. Menyediakan air bersih di Jakarta bisa dilakukan dengan memerbaiki akses masyarakat ke air pipa (air PAM), dengan meningkatkan kinerja dan kualitas pengelolaan air minum daerah.
Resolusi #4. Lebih Banyak Berjalan Kaki
Berjalan kaki di Jakarta adalah sebuah perjuangan yang luar biasa. Buruknya fasilitas bagi pejalan kaki dan tingginya polusi menjadi masalah utama. Tingkat polusi udara Jakarta jauh di atas rata-rata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun bersama dengan penggiat lingkungan yang lain, seperti rekan-rekan pekerja bersepeda dan penggiat berkebun, jangan pernah berhenti dan berjuang untuk menciptakan Jakarta yang lebih baik.
Resolusi #5. Menggunakan Transportasi Publik
Sama seperti pejalan kaki, pengguna transportasi publik juga menghadapi ancaman polusi udara dan kriminalitas. Memperbaiki kualitas layanan transportasi publik hingga kini masih menjadi PR besar yang belum terselesaikan. Padahal transportasi publik yang baik adalah kunci mengurai kemacetan dan polusi kronis di Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia. Saran kami, tetap berhati-hati ketika menggunakan transportasi publik. Pilah dan pilih transportasi publik dengan lebih bijaksana.
Resolusi #6. Kesejahteraan Bagi Kaum Muda
Adalah kewajiban kita bersama untuk memberikan kesempatan dan fasilitas bagi kaum muda untuk berkarya dengan menciptakan iklim yang kondusif bagi terciptanya lapangan kerja. Mereka adalah pemilik masa depan Jakarta dan juga masa depan bangsa.
Resolusi #7. Mengurangi Emisi dan Polusi Udara
Berjanjilah pada diri Anda sendiri untuk lebih serius mengurangi emisi dengan mengurangi pemakaian kendaraan pribadi. Langkah pengurangan emisi juga bisa dicapai dengan efisiensi energi dan langkah-langkah reboisasi.
Resolusi #8. Selalu Waspada
Bersiap dan selalu waspada terhadap bencana. Jakarta pada 2012 memasuki siklus banjir besar lima tahunan. Tugas kita bersama untuk lebih siap menghadapi bencana. Karena Jakarta bebas banjir dan bencana sampai saat ini masih menjadi utopia.
Resolusi #9. Mengurangi Segala Jenis Sampah
Mengurangi segala jenis sampah bisa dilakukan dengan mengubah gaya hidup. Jangan buang sampah sembarangan. Lakukan daur ulang. Berhenti menggunakan kantong plastik dan bahan plastik. Beralih ke tas dan produk yang lebih ramah lingkungan. Hindari membeli minuman dalam botol, bawa sendiri botol Anda dari rumah.
Semoga semua harapan ini bisa terwujud untuk masa depan Jakarta dan Indonesia yang lebih hijau dan lebih baik.
http://www.hijauku.com/2012/01/06/9-resolusi-untuk-jakarta-di-2012/
More about9 Resolusi untuk Jakarta di 2012

5 Ikon Jakarta Mendukung Earth Hour 2012

Diposting oleh Unknown on Jumat, 30 Maret 2012


Jakarta (Greeners) – Lima ikon kota Jakarta bakal dimatikan lampu penerangannya selama satu jam sebagai bagian dari kampanye gerakan hemat energi Earth Hour yang akan diselenggarakan pada Sabtu, 31 Maret 2012.

Hal itu ditegaskan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo dalam jumpa pers, Minggu (25/3).

“Saya bangga Jakarta jadi pionir buat kampanye Earth Hour Indonesia. Kita ikut kampanye ini karena kita cinta lingkungan ingin lebih asri dan lebih baik,” ujar pria yang akrab dengan sapaan Foke itu. Foke mengatakan telah menginstruksikan pemadaman lampu di lima ikon Jakarta serta seluruh kantor pemerintahan saat peringatan Earth Hour itu.

Lima ikon Jakarta itu yakni gedung balaikota Provinsi DKI Jakarta, Monas dan air mancurnya, air mancur patung Arjuna Wijaya di depan Kementerian Pariwisata dan Perekonomian Kreatif, air mancur Bundaran Hotel Indonesia, dan Patung Pemuda di kawasan Senayan.

Selain itu, lampu jalan sepanjang Jalan Sudirman- Jalan MH. Thamrin, lampu jalan sepanjang Jalan Gatot Subroto-HR. Rasuna Said dan lampu billboard milik Pemda DKI juga akan turut dimatikan.

Foke menyatakan kampanye Earth Hour merupakan upaya untuk mengubah perilaku masyarakat lebih menghemat energi. Wujud nyatanya, katanya, terlihat dari energi yang berhasil dihemat pada pelaksanaan Earth Hour di Indonesia pada tahun lalu, yakni sebesar 170 megawatt atau setara dengan 151 ton gas rumah kaca.Foke pun berharap penghematan listrik dalam pelaksanaan Earth Hour tahun ini bisa lebih tinggi.

Apalagi, lanjutnya, jumlah kota yang berpartisipasi kian bertambah, “Tadinya tujuh kota yang ikut berpartisipasi di tahun lalu, sekarang bertambah menjadi 26 kota di seluruh Indonesia yang mendukung Earth Hour. Total yang akan ikut berjumlah lebih dari 5000 kota di 135 negara dunia ikut menyemarakkan Earth Hour,” ungkap Direktur WWF Indonesia Efransjah.

Efransjah menerangkan makna yang ingin dikejar dari kampanye Earth Hour bukanlah sekedar mematikan lampu selama sejam saja. Kampanye yang digelar pertama kali pada tahun 2007 itu bertujuan untuk mengingatkan bahaya emisi karbondioksida yang tidak terkontrol. Emisi karbon tersebut salah satunya dihasilkan melalui konsumsi listrik. Pulau Jawa menjadi konsumen listrik terbesar di Indonesia. Maka itu, program penghematan listrik ini tak hanya menggandeng pemerintah sebagai pembuat kebijakan, tetapi juga kalangan masyarakat.

Earth Hour dimulai atas gagasan Leo Burnett yang kemudian berkolaborasi dengan WWF-Australia dan Fairfax Media di kota Sidney pada 2007. Saat itu 2,2 juta penduduk Sydney turut berpartisipasi dengan memadamkan semua lampu yang tidak perlu. Kegiatan ini kemudian mendunia dan dilaksanakan mulai pukul 20.30 setiap hari Sabtu di akhir bulan Maret. Sejak dimulai pertama kali di Sidney, gerakan kampanye Earth Hour kini sudah meluas hingga 5 ribu kota di 135 negara. Tahun lalu, berdasarkan data WWF, gerakan Earth Hour diikuti seluruh elemen masyarakat dari mulai rakyat, pemerintah, hingga sektor bisnis. WWF mencatat tahun lalu ada 116 sektor bisnis multinasional yang turut dalam Earth Hour (G11).

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=13766738
More about5 Ikon Jakarta Mendukung Earth Hour 2012

Sejarah Earth Hour Dari Tahun ke Tahun

Diposting oleh Unknown



Agnda-anda sudah pasti tahu yang namanya Earth Hour.
Earth Hour ini merupakan kegiatan global yang diadakan oleh WWF (World Wildlife Fund) dan diadakan pada Hari Sabtu terakhir di Bulan Maret setiap tahunnya yang meminta rumah-rumah dan perkantoran untuk memdamkan lampu dan peralatan listrik lainnya selama satu jam.

Nah,bagi yang belum tahu mengenai awal mula diadakannya Earth Hour ini,ane pengen ngejelasin sejarah Earth Hour dari tahun ke tahun..


Tahun 2004

-WWF Australia mulai mencari cara-cara baru untuk mengambil tindakan terhadap isu arus perubahan iklim dunia setelah dihadapkan dengan data ilmiah yang serius.
-WWF Australia bertemu dengan agen periklanan, Leo Burnett Sydney untuk mendiskusikan ide-ide untuk melibatkan Australia pada isu perubahan iklim.

Tahun 2005

-Sebuah kampanye berdasarkan pada harapan bukan rasa takut, dan gagasan bahwa setiap orang bisa bertanggungjawab secara pribadi untuk masa depan planet kita.
-WWF Australia dan Leo Burnett Sydney mulai mengembangkan konsep pemadaman (lampu) dalam skala besar. Proyek ini diberi nama
 "The Big Flick"

Tahun 2006

-Leo Burnett ditugasi membuat nama kampanye yang bisa mewakili lebih dari sekadar memadamkan lampu. Lahirlah Earth Hour. Nama Earth Hour memungkinkan untuk memperluas fokus kampanye dari sekedar “lampu mati”
-WWF Australia dan Leo Burnett Sydney mengambil konsep Earth Hour untuk Fairfax Media (Group Media di Australia)
-Walikota Sydney saat itu, Clover Moore MP mendukung kampanye tersebut
-Al Gore’s An Inconvenient Truth, film ini dirilis di seluruh dunia membawa pesan pentingnya perhatian pada isu perubahan iklim






-Laporan Stern, yang membahas dampak perubahan iklim dan pemanasan global pada ekonomi dunia dirilis pada bulan Oktober. Peringatan dari seorang ekonom (bukan dari seorang ilmuwan) ini memperingatkan kepada pemerintah mengenai biaya yang harus ditanggung jika mengabaikan ancaman perubahan iklim.

31 Maret 2007

-Untuk pertama kalinya Earth Hour diadakan di Sydney – Australia pada jam 19:30 – 20:30. 2,2 juta penduduk Sydney dan 2.100 dari kalangan pengusaha ikut berpartisipasi.






-The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) mengeluarkan laporan yang menyoroti risiko peningkatan suhu, dan menekankan perlunya segera mencari solusi.

April 2007

-Rencana dikembangkan untuk menjadikan Earth Hour sebagai acara nasional di Australia. Tetapi dunia internasional mulai tertarik untuk menjadi bagian dari acara ini, dan mulai bergabung pada kampanye Earth Hour berikutnya.

29 March 2008

-Earth Hour diadakan di 371 kota di lebih dari 35 negara secara global pada jam 20:00 – 21:00 waktu setempat. Sebuah perkiraan menyebutkan bahwa 50 juta orang berpartisipasi. Tapi pendapat lain memperkirakan, mencapai 100 juta orang
28 March 2009

-Earth Hour diadakan pada hari Sabtu, 28 Maret jam 20:30 – 21:30 waktu setempat. Ratusan juta orang di lebih dari 4.000 kota dan 88 negara di dunia mematikan lampu mereka selama satu jam.
July 2009

-Earth Hour merilis kampanye Vote Earth dan menyerukan warga dunia untuk memberikan suara mereka untuk Bumi terhadap Pemanasan Global.
November 2009

-Earth Hour’s Vote Earth meluncurkan The People’s Orb, sebuah bola perak berkilauan membungkus 350 gigabyte hard drive dengan video, foto dan dokumen-dokumen yang mewakili ratusan jutaan orang yang telah memilih Bumi (Vote Earth) untuk melakukan aksi terhadap perubahan iklim. Sebuah representasi nyata suara orang-orang di dunia, The People’s Orb diarak secara berantai dari Sydney ke Kopenhagen.


Desember 2009

-Kesadaran global terhadap perubahan iklim mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya selama pertemuan bersejarah dari 192 negara di Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark. Kampanye Vote Earth mencapai titik kulminasinya pada tanggal 16 Desember dengan Earth Hour Kopenhagen. The People’s Orb, yang dipercayakan kepada PBB Chef de Cabinet, Vijay Nambiar harus dipresentasikan kepada para pemimpin dunia. The People’s Orb ditempatkan di tengah panggung ruang konferensi pada hari terakhir konferensi bersama Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-Moon, di depan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, Perdana Menteri Denmark Lars Løkke Rasmussen, COP President and Climate Minister Connie Hedegaard dan lebih dari 100 kepala negara.
27 Maret 2010

-Earth Hour diadakan pada Hari Sabtu 27 Maret jam 20.30-21.30 dan berhasil menjadi panggilan global untuk bangkit,untuk mengambil tanggung jawab,dan memimpim perjalan global untuk masa depan yang berkelanjutan.Sebuah rekor dimana 128 negara dan teritorial mengambil bagian dan ikon bangunan-bangunan dari Asia Pasifik sampai Eropa dan Afrika sampai Amerika berdiri dalam kegelapan.




Eiffel Tower

National Monument(Monas)

Tokyo Tower

Menara Petronas

Colosseum



Sabtu,26 Maret 2011

Dilaksanakan pada jam 20.30-21.30.dilaksanakan ditempat-tempat besar seperti bundaran HI ,monas



Sabtu, 31 Maret 2012,  
Matikan lampu dan peralatan elektronik yang tidak sedang dipakai pada pukul 20.30 - 21.30 (waktu setempat).

Kami mengharapkan jutaan orang di seluruh dunia mematikan lampunya selama 1 jam sebagai pernyataan global. Tunjukkan bahwa kamu peduli perubahan iklim. Tindakan kecil dapat membuat perubahan besar.

"INI AKSIKU! MANA AKSIMU?"


Jadi,mari kita ikuti program Earth Hour ini demi menghemat energi untuk bumi kita sendiri.

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=7639837

More aboutSejarah Earth Hour Dari Tahun ke Tahun

Lima Fakta Menarik Tentang Earth Hour

Diposting oleh Unknown on Kamis, 29 Maret 2012



Pada 31 Maret nanti, mulai dari jam 20.30-21.30, penduduk kota-kota di dunia, termasuk Jakarta di Indonesia, akan mematikan lampu secara serentak. Inilah Earth Hour, upaya kita yang paling sederhana untuk menyelamatkan Bumi. Berikut lima fakta menarik dari Earth Hour:

1. Logo 60+

Logo Earth Hour awalnya hanya menggunakan angka 60 saja bermotif Planet Bumi untuk melambangkan 60 menit waktu yang digunakan saat Earth Hour. Namun, sejak 2011, logo tersebut mendapat tambahan tanda + (plus) di belakang angka 60. Tanda plus tersebut merepresentasikan tujuan Earth Hour yang mendorong publik untuk melakukan aksi lanjutan setelah satu jam mematikan lampu berakhir. 

WWF berharap kegiatan efisiensi energi yang dilakukan semua partisipan Earth Hour tidak berhenti di satu jam saja, tapi bisa terus berlanjut menjadi gaya hidup plus aksi ramah lingkungan lainnya yang diterapkan setiap hari. Setelah satu jam, jadikan gaya hidup!

2. Mengapa selalu digelar hari Sabtu?
Earth Hour digelar di hari Sabtu supaya tidak menggangu aktivitas rekan-rekan yang masih bekerja hingga larut malam di hari kerja (Senin-Jumat). Selain karena alasan produktivitas kaum pekerja, alasan kenyamanan pun menjadi pertimbangan. 

Hari Sabtu adalah hari libur yang umumnya digunakan juga oleh anggota keluarga untuk berkumpul bersama di rumah. Tim kampanye Earth Hour berharap setiap anggota keluarga, siapapun mereka, berapapun usianya bisa berpartisipasi mengambil langkah simpel untuk menyelamatkan bumi sekaligus mempererat kebersamaan mereka. Di situs Earth Hour Indonesia terdapat 10 tips kegiatan seru yang bisa dilakukan bersama keluarga saat lampu mati

3. Mengapa Earth Hour digelar di akhir Maret?
Akhir Maret dipilih sebagai waktu penyelenggaraan Earth Hour karena saat itu, mayoritas negara di seluruh belahan dunia sedang mengalami pergantian musim sehingga suhunya pun cukup nyaman bagi penduduk bumi jika pendingin maupun pemanas ruangan dimatikan saat Earth Hour. 

Selain itu, di akhir Maret, rata-rata semua belahan dunia sudah cukup gelap sekitar jam 20.30 – 21.30 sehingga efek Earth Hour akan sangat terasa. Lain hallnya jika dilakukan di pertengahan tahun dimana negara-negara tertentu masih terang hingga jam delapan malam.

4. Mengapa Jakarta?
Selain karena statusnya sebagai ibu kota dengan beberapa bangunan ikonik yang dapat dipadamkan, Jakarta juga merupakan konsumen listrik terbesar di Indonesia. Berdasarkan data konsumsi listrik tahun 2008,total 23% konsumsi listrik Indonesia terfokus di DKI Jakarta dan Tangerang. Itu untuk skala kota. Lain halnya jika melakukan perbandingan antar pulau, maka wilayah Jawa-Bali adalah konsumen listrik terbesar di Indonesia. Sebesar 78% konsumsi listrik negara terpusat di kedua pulau ini.
 
5. Apa manfaat yang didapat jika kita melakukan efisiensi energi listrik?
Mayoritas energi listrik yang kita nikmati masih dihasilkan dari pembakaran sumber daya yang tidak terbarukan (minyak bumi dan batu bara). Padahal, kita tahu bahwa ketersediaan bahan bakar tersebut semakin menipis dan dampak pembakarannya pun menghasilkan emisi yang mempercepat laju pemanasan global. 

Untuk menghindari kerugian yang lebih luas akibat pemanasan global, ada dua cara yang bisa kita lakukan, yaitu efisiensi energi dan konversi energi ke sumber-sumber terbarukan. Earth Hour merupakan salah satu wujud efisiensi energi yang bisa dilakukan semua orang secara sederhana. 

Bayangkan, kalau 10% warga Jakarta saja melakukan penghematan listrik saat Earth Hour, energi yang dihemat bisa bermanfaat memenuhi kebutuhan listrik di 900 desa dan menyediakan oksigen bagi 534 orang. 

Kalau selama ini kita yang menghirup napas di bumi, bisa dibilang Earth Hour adalah momen yang kita berikan kepada bumi untuk bernapas sejenak dari tekanan-tekanan yang kita hasilkan. Hal kecil, jika dilakukan bersama-sama, akan besar manfaatnya. Setuju, kan?



id.berita.yahoo
More aboutLima Fakta Menarik Tentang Earth Hour
Flag Counter