UNTUK CLOSE : KLIK LINK IKLAN DI BAWAH 1 KALI AGAR MELIHAT FULL ARTIKEL ^^


Tampilkan postingan dengan label Ujian Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ujian Nasional. Tampilkan semua postingan

Opera Pendidikan dalam UN

Diposting oleh Unknown on Senin, 21 Mei 2012

Pengamat pendidikan Elin Driana, menilai pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tidak terbukti meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. UN justru mereduksi kurikulum sekolah dan proses belajar mengajar pada beberapa mata pelajaran saja. Disamping itu ujian nasional dipandang meningkatkan kecemasan siswa, uji petik psikologis menunjukkan, 79,1 persen siswa sekolah menengah atas peserta ujian nasional cemas menghadapi ujian ini.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh bahwa kecemasan siswa wajar dan justru bagus kalau bisa mendongkrak semangat belajar siswa.

Mendikbud tidak salah. Namun, kenyataannya dalam praktik pelaksanaan ujian nasional (UN) para peserta bukan hanya cemas. Mereka bahkan ada yang tak peduli dan apatis. Ini karena sejak awal peserta didik dipaksa dan diarahkan terus-menerus agar memperoleh nilai bagus dan lulus.

Anak kehilangan makna dan tujuan pendidikan: membuat dirinya bangga dan berharga sebagai manusia. Falsafah pendidikan klasik non scholae sed vitae discimus (kita belajar bukan untuk sekolah, melainkan untuk hidup) seakan tak punya makna dan arti lagi. Setiap guru bersama pengayom pendidikan lain hanya mengarahkan siswa agar lulus. Dapat ditebak bahwa hasilnya adalah siswa memang mendapat nilai bagus di atas kertas, tetapi miskin kualitas praktik kehidupan dan karakter.


Maka, terjadilah opera saat pelaksanaan UN. Dalam opera permainan diatur dan dilatih sedemikian rupa agar kisahnya yang berkaitan dengan kehidupan nyata bisa mengundang kekaguman penonton. Dalam pertemuan formal dengan beberapa kepala sekolah di Sumatera Utara, mereka mengaku dipaksa mengikuti segala upaya untuk menekan angka ketidaklulusan.

Opera pelaksanaan UN dimulai dengan skenario: para kepala sekolah dikumpulkan oleh oknum dari dinas pendidikan. Mereka mendapat pengarahan yang sangat jelas mengenai kerja sama antarguru pengawas dari sekolah yang satu ke sekolah yang lain. Hasilnya, saat pelaksanaan UN semua guru yang menjadi pengawas tampil dengan wajah seram.
Di setiap sudut sekolah dan ruangan terpampang tulisan: ”Yang tidak berkepentingan dilarang masuk. Tertanda BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan)”. Formalitas semakin hebat dengan hadirnya polisi di tempat ujian diselenggarakan. Setiap lembar soal dan jawaban dikawal polisi sampai ke ibu kota kabupaten dan dari sana dikawal ke tempat pemeriksaan akhir.

Aneh dan sangat memalukan bahwa ujian akhir untuk tingkat SMP dan SMA saja harus dijaga polisi. Kehadiran polisi saat UN bagi saya adalah bentuk penghinaan kepada guru dan dinas pendidikan. Kehadiran polisi pada pelaksanaan UN jelas menunjukkan bahwa guru dan para pengayom di dinas pendidikan tak dapat lagi dipercaya. Kalau guru dan mereka yang terlibat dalam urusan pendidikan tidak dapat lagi dipercaya, mau dibawa ke mana bangsa ini?

Opera ini makin menakjubkan pada hari-H pelaksanaan ujian. Sang sutradara memantau dengan sangat ketat dan sistematis. Para kepala sekolah dan guru yang menjadi pemain lapangan menjalankan tugas dengan sangat cermat. Para peserta UN sebagai obyek dan sekaligus pemain tinggal ternganga, diam tak bersuara, karena mereka bagian yang ”diuntungkan”.

Dalam keheningan pelan-pelan kertas jawaban dibagikan. Dari 50 soal, yang sudah diberi jawaban 38 hingga 40. Maka, dapat ditebak bahwa tanpa menjawab soal yang 10 lagi, peserta UN sudah pasti lulus dengan nilai tinggi. Kalau jawaban ini bisa sampai kepada para peserta ujian, pasti karena sudah ada permainan yang ditata rapi.

Sayang, opera pendidikan dalam UN ini sepi penonton. Mungkin karena mereka sudah sangat bosan dan tak ada artinya lagi mengkritik. Toh, pemerintah akan berargumentasi secara logis dan terang-benderang. Maklum mereka rata-rata berlatar belakang pendidikan master, doktor, dan profesor. Bahkan, Jusuf Kalla, mantan orang nomor dua di republik ini dan tergolong orang pintar, ikut membela UN.

Bila kita berpikir secara jernih, UN dengan materi untuk ukuran anak yang sekolah di kota besar dan pendidik profesional sangatlah tidak seimbang untuk siswa yang tinggal di pelosok dengan fasilitas sederhana dan guru yang biasa pula. Seharusnya pemerintah membagi soal ujian dalam tiga kategori, yakni untuk kota besar/metropolitan, kota kecil, dan daerah terpencil.

Substansi pendidikan

Pendidikan itu suci. Ia memiliki kuasa sakramental dalam rahimnya. Ia mampu menyentuh sisi terdalam kehidupan manusia dan mentransformasikannya. Dosa utama dari institusi pendidikan adalah mengaborsi pendidikan dari rahim pendidikan.

Sekularisasi dan fragmentasi hidup postmodern sepintas menyamakan pendidikan dan persekolah, padahal hakikat pendidikan itu berbeda dengan persekolahan. Pendidikan adalah substansi dan isi pengetahuan, sementara persekolahan adalah sistem, sarana, dan gedung.

Cukup sering sarana memberikan bantuan. Namun, dalam beberapa dekade ini, dalam banyak kasus, sekolah dengan segala persyaratannya: sepatu, buku, administrasi, uang gedung, ijazah, dan masih banyak aksesori lain yang lebih banyak mengganggu pendidikan daripada membantu (Sindhunata, ”Angsa yang Kesepian” dalam majalah Basis, Juli-Agustus 2007).

Pendidikan yang berkualitas digapai dengan kemampuan membangun dialog yang sehat dan benar antara pemangku pendidikan, guru, dan peserta didik. Peter C Hodgson, seorang teolog dan sekaligus ahli pendidikan, menawarkan pendidikan yang mengedepankan dialog dan bukan monolog.

Ia menolak cara-cara otoriter dalam pendidikan. Dalam pandangan Hodgson, pendidikan harus menyingkapkan kebenaran dan menyelamatkan umat manusia dari kesesatan (the darkness of error) dan berhala (idolatry) dengan menebus budi, tetapi tidak menggusurnya.

Kejahatan yang disebabkan oleh akal budi perlu diterangi. Semua ini membutuhkan adanya kerja sama. Kerja sama dan solidaritas menjadi inti pendidikan. Untuk itu, pendidikan perlu terus-menerus menerapkan prinsip 3C: competency, compassion, conscience.

Competency artinya punya kemampuan yang dapat diandalkan dan berdaya guna karena memiliki pengetahuan. Compassion artinya peserta didik dilatih untuk berempati kepada orang lain. Conscience artinya memiliki kesadaran moral otonom.

Keberhasilan menanamkan prinsip tiga C dalam pendidikan pada akhirnya akan melahirkan dan menciptakan anak didik yang memiliki ilmu pengetahuan dan sekaligus berkarakter.

Kita mengharapkan setiap anak didik yang dididik di lembaga pendidikan resmi tumbuh menjadi manusia berkarakter, dalam arti memiliki kepribadian yang tangguh. Agar berkarakter, setiap anak didik perlu didorong untuk disiplin, dikondisikan untuk tidak mencontek, bermental juara tetapi bukan harus juara dan bahkan jiwa seni mereka pun dikembangkan.

Pendidikan karakter ini juga bertujuan untuk memberikan visi etis kepada peserta didik. Pendidikan yang mengabaikan pembentukan visi etis dikhawatirkan hanya akan menjadi proses pemindahan pengetahuan yang tidak berakar pada nilai-nilai kemanusiaan.

Sumber :
Kompas
Metro TV News
More about → Opera Pendidikan dalam UN

DPR : Nilai UN Belum Layak Jadi Tiket Masuk PTN

Diposting oleh Unknown on Selasa, 08 Mei 2012

Masih banyaknya persoalan terkait penyelenggaraan dan hasil ujian nasional (UN) dinilai memicu keraguan terhadap kredibilitas UN. Karena itu rencana pemerintah untuk mengintegrasikan hasil UN sebagai syarat seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri atau SNMPTN perlu dikaji secara cermat.

Menurut Raihan Iskandar, anggota Komisi X DPR, masih ada keraguan pada kredibilitas UN sendiri. "Selama masih terjadi berbagai kecurangan dalam penyelenggaraan UN, kredibilitas hasil dari UN patut dipertanyakan dan belum layak dijadikan tiket masuk ke PTN," katanya di Jakarta, Selasa (8/5/2012).


Apalagi, kata dia, dengan keragaman sekolah-sekolah yang ada, baik dari segi sarana dan prasarana maupun kualitasnya, berpengaruh terhadap kualitas peserta didiknya. Jadi, menurut dia, jika UN dijadikan tiket masuk ke PTN, hanya sekolah-sekolah tertentu yang memiliki peluang besar untuk diterima di PTN.

Selanjutnya, pemerintah juga dinilai perlu mengkaji potensi munculnya "mark up" nilai UN (nilai rapor) ulah sekolah-sekolah yang memiliki kualitas rendah. Karena akan ada pertanyaan besar pada kualitas siswa yang diterima di PTN jika nilai sekolah sama-sama tidak kredibel dengan hasil UN.

"Oleh karena itu, untuk mencegah munculnya praktik "mark up" nilai sekolah, pemerintah perlu membuat aturan sanksinya. Dengan demikian, tiap sekolah nantinya tidak sembarangan meng-upgrade nilai sekolah siswa mereka," ujarnya.

Selain itu, politikus dari Fraksi PKS ini menambahkan, secara teknis mekanisme SNMPTN selama ini menerima pendaftaran bagi siswa yang lulus di tahun sebelumnya. Jika pemerintah memberlakukan UN sebagai seleksi masuk PTN, menurut dia, pemerintah harus membuka peluang pendidikan vokasi bagi siswa yang tahun sebelumnya tidak lulus PTN dan bermaksud mengikuti seleksi masuk PTN kembali.

"Jadi, banyak hal yang perlu dikaji secara cermat oleh pemerintah sebelum memberlakukan kebijakan ini untuk menghindari implikasi negatif," pungkasnya.

Seperti diberitakan, mulai 2013 pemerintah akan menjadikan jalur undangan sebagai satu-satunya pintu masuk PTN. Jalur undangan sendiri bisa didapatkan dari gabungan nilai sekolah dengan hasil UN. Selain untuk mengusung semangat integrasi pendidikan menengah ke pendidikn tinggi, kebijakan ini dinilai lebih efisien dari segi pendanaan dan pelaksanaannya.
More about → DPR : Nilai UN Belum Layak Jadi Tiket Masuk PTN

10 Besar Daerah dengan rata-rata nilai Sekolah terbaik

Diposting oleh Unknown on Senin, 19 September 2011

Pengumuman kelulusan ujian nasional (UN) tingkat SMA/MA/SMK/SMALB telah diumumkan hari Senin (16/5/2011). Siswa dapat melihat pengumuman tersebut melalui situs web sekolah masing-masing.

"Hasil ini tentu saja bagus karena dibandingkan dengan tahun lalu ada kenaikan angka," kata Wakil Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Agus Suradika di Jakarta, Senin (16/5/2011).

Tahun lalu, persentase kelulusan tingkat SMA hanya 98,59 persen dan tingkat SMK 99,7 persen. Tahun ini kelulusan tingkat SMA mencapai 99,49 persen dan tingkat SMK 99,81 persen.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan DKI Jakarta, jumlah total peserta UN tingkat SMA/MA/SMK adalah 119.275 orang. Sebanyak 118.886 siswa dinyatakan lulus, sedangkan 389 tidak lulus.

Dihitung dari jumlah keseluruhan siswa yang terdaftar sebagai peserta UN, sebanyak 51.644 berasal dari siswa SMA, 63.057 siswa SMK, dan 4.574 siswa MA. Untuk tingkat SMA, sebanyak 51.383 siswa lulus ujian, sedangkan 261 siswa gagal dalam UN tahun ini.

Di tingkat SMK, sebanyak 62.939 berhasil lulus ujian, sedangkan 118 siswa tidak lulus. Kemudian di tingkat MA, 4.564 siswa lulus UN, sementara 10 siswa dinyatakan tidak lulus.

Menurut dia, UN tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Pada UN 2011 tidak akan ada UN ulangan. Bagi siswa yang tidak lulus, mau tidak mau harus mengambil ejar Paket C atau mengulang lagi tahun depan.

"Itu kebijakan nasional. Kami juga hanya menjalankannya saja," ujar Sekretaris Dinas Pendidikan DKI Jakarta Abdul Hamid di Jakarta, Senin (16/5/2011).

Ini dia 10 Besar Daerah dengan rata-rata nilai Sekolah terbaik :

1. Bali (8.51),
2. Bengkulu (8.35),
3. DI Yogyakarta ( 8.35),
4. Sulawesi Utara ( 8.340,
5. Jawa Timur (8.32),
6. Lampung (8.25),
7. Sumatera Selatan (8.19),
8. Jawa Tengah (8.16),
9. Sumut (8.16),
10. Jawa Barat (8.13).

Diolah dari berbagai sumber terpercaya
More about → 10 Besar Daerah dengan rata-rata nilai Sekolah terbaik

10 Besar Daerah dengan rata-rata nilai UN terbaik

Diposting oleh Unknown

Pengumuman kelulusan ujian nasional (UN) tingkat SMA/MA/SMK/SMALB telah diumumkan hari Senin (16/5/2011). Siswa dapat melihat pengumuman tersebut melalui situs web sekolah masing-masing.

"Hasil ini tentu saja bagus karena dibandingkan dengan tahun lalu ada kenaikan angka," kata Wakil Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Agus Suradika di Jakarta, Senin (16/5/2011).

Tahun lalu, persentase kelulusan tingkat SMA hanya 98,59 persen dan tingkat SMK 99,7 persen. Tahun ini kelulusan tingkat SMA mencapai 99,49 persen dan tingkat SMK 99,81 persen.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan DKI Jakarta, jumlah total peserta UN tingkat SMA/MA/SMK adalah 119.275 orang. Sebanyak 118.886 siswa dinyatakan lulus, sedangkan 389 tidak lulus.

Dihitung dari jumlah keseluruhan siswa yang terdaftar sebagai peserta UN, sebanyak 51.644 berasal dari siswa SMA, 63.057 siswa SMK, dan 4.574 siswa MA. Untuk tingkat SMA, sebanyak 51.383 siswa lulus ujian, sedangkan 261 siswa gagal dalam UN tahun ini.

Di tingkat SMK, sebanyak 62.939 berhasil lulus ujian, sedangkan 118 siswa tidak lulus. Kemudian di tingkat MA, 4.564 siswa lulus UN, sementara 10 siswa dinyatakan tidak lulus.

Menurut dia, UN tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Pada UN 2011 tidak akan ada UN ulangan. Bagi siswa yang tidak lulus, mau tidak mau harus mengambil ejar Paket C atau mengulang lagi tahun depan.

"Itu kebijakan nasional. Kami juga hanya menjalankannya saja," ujar Sekretaris Dinas Pendidikan DKI Jakarta Abdul Hamid di Jakarta, Senin (16/5/2011).

Ini dia 10 Besar Daerah dengan rata-rata nilai UN terbaik :

1. Bali (8.31),
2. Bengkulu (8.07),
3. Sumatera Utara (8.05),
4. Jawa Barat (8.03),
5. Jawa Timur (7.86),
6. Sumatera Selatan (7.80),
7. Sulawesi Utara (7.66),
8. Lampung (7.67), Riau (7.91),
9. Jawa Tengah (7.70),
10. Maluku (7.69).

Diolah dari berbagai sumber terpercaya

More about → 10 Besar Daerah dengan rata-rata nilai UN terbaik

Ini Dia 10 Besar Terbaik Ujian Nasional 2011

Diposting oleh Unknown

Dari 10 Besar Terbaik Ujian Nasional 2011 sayangnya DKI Jakarta tak masuk kategori 10 besar. Berdasarkan data Dinas Pendidikan DKI Jakarta, jumlah total peserta UN tingkat SMA/MA/SMK adalah 119.275 orang. Sebanyak 118.886 siswa dinyatakan lulus, sedangkan 389 tidak lulus. Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohamad Nuh memaparkan hasil ujian nasional (UN) tahun ajaran 2010/2011, Jumat (20/5/2011), di Gedung A, Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta. Berdasarkan analisa Kemdiknas, tak ada satupun SMA/sederajat dari DKI Jakarta yang masuk dalam sepuluh besar SMA dengan kelulusan dan nilai UN murni terbaik.


Berikut adalah sepuluh besar SMA dengan kelulusan dan nilai UN murni terbaik.

1. SMAN 10 Fajar Harapan Banda Aceh

Dengan nilai rata-rata 9.53, SMAN 10 Fajar Harapan Banda Aceh berhasil menduduki posisi pertama dengan kelulusan dan nilai UN murni terbaik.

2. SMAN 4 Denpasar berada di posisi kedua dengan nilai rata-rata 9.49.

3. SMAN 1 Tasikmalaya

SMAN 1 Tasikmalaya dengan nilai rata-rata 9.40, berhasil menduduki posisi ketiga.

4. SMAN 2 Tasikmalaya

SMAN 2 Tasikmalaya dengan nilai rata-rata 9.40, berhasil menduduki posisi keempat.

5. SMA 2 Modal Bangsa Kuta Baro, Aceh Besar, dengan nilai rata-rata 9.37.

6. SMAN 1 Denpasar dengan nilai rata-rata 9.34.

7. SMAN 3 Denpasar dengan nilai rata-rata 9.30.

8. SMAN 1 Bekasi dengan nilai rata-rata 9.24.

9. SMAN 3 Lamongan dengan nilai rata-rata 9.21.

10. SMAN 1 Kudus dengan nilai rata-rata 9.20.

Diolah dari berbagai sumber terpercaya

More about → Ini Dia 10 Besar Terbaik Ujian Nasional 2011

Ranking 1 Ujian Nasional

Diposting oleh Unknown

Berdasarkan data Kementrian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), tahun ini peringkat pertama dalam sepuluh besar kelulusan dan nilai UN murni terbaik tingkat SMA/sederajat diraih oleh SMAN 10 Fajar Harapan, Banda Aceh, dengan nilai rata-rata 9.53.

Demikian data hasil ujian nasional (UN) tahun ajaran 2010/2011 yang dipaparkan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh, Jumat (20/5/2011), di Gedung A, Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta. Tak ada satupun SMA/sederajat dari DKI Jakarta yang masuk dalam sepuluh besar SMA dengan kelulusan dan nilai UN murni terbaik.

Tahun ini, posisi kedua diduduki SMAN 4 Denpasar, Bali, dengan nilai rata-rata 9.49. Sementara itu, SMAN 1 dan SMAN 2 Tasikmalaya, dengan masing-masing nilai rata-rata 9.40, berhasil menduduki posisi ketiga dan keempat, sementara posisi kelima dan keenam diduduki SMA 2 Modal Bangsa Kuta Baro, Aceh Besar, dengan nilai rata-rata 9.37 dan SMAN 1 Denpasar dengan nilai rata-rata 9.34.

Selanjutnya, SMAN 3 Denpasar dengan nilai rata-rata 9.30, dan SMAN 1 Bekasi dengan nilai rata-rata 9.24, berada di posisi ketujuh dan kedelapan. Adapun dua tempat terakhir ditempati oleh SMAN 3 Lamongan dengan nilai rata-rata 9.21 dan SMAN 1 Kudus dengan nilai rata-rata 9.20.




More about → Ranking 1 Ujian Nasional

Nilai Ujian Nasional Tertinggi

Diposting oleh Unknown

Provinsi Bali berhasil meraih nilai ujian nasional (UN) tertinggi tingkat SMP/MTs. Nilai rata-rata UN SMP/MTs Provinsi Bali mencapai 8,11. Sebelumnya, di tingkat SMA/sederajat, SMAN 1 Denpasar, Bali, menduduki posisi keenam nasional dengan nilai rata-rata 9.34.

Posisi kedua diduduki Sumatera Utara dengan nilai rata UN 8,04 dan ketiga adalah Jawa Timur dengan nilai rata-rata 7,86. Sementara dengan nilai rata-rata 6,71, Provinsi Kalimantan Barat menempati posisi sebagai daerah dengan nilai rata-rata UN terendah.

"Karena itu, rata-rata nasional nilai UN SMP/MTs adalah 7,56," kata Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh kepada wartawan, Rabu (1/6/2011), di Jakarta.

Nuh melanjutkan, ada 744 siswa yang sebenarnya memiliki nilai rata-rata ujian sekolah mencukupi. Namun, karena ada satu atau dua mata pelajaran yang memperoleh nilai di bawah lima kemudian mereka menjadi tidak lulus.

"Siswa lain yang tidak lulus, paling banyak rata-rata nilainya kurang dari lima. Jika ditotal mencapai 19.490," ujarnya.

Tahun ini, dari 3.714.216 siswa SMP/MTs yang mendaftar ujian nasional (UN), hanya 3.660.803 siswa yang mengikuti UN dan sebanyak 3.640.569 atau 99,45 persen yang dinyatakan lulus. Sementara itu, 20.234 siswa SMP/MTS atau 0,55 persen siswa lainnya dinyatakan tidak lulus.




More about → Nilai Ujian Nasional Tertinggi

Kelulusan Ujian Nasional Terbanyak

Diposting oleh Unknown

Berdasarkan data yang dipaparkan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh, dengan perolehan jumlah 4.823 atau 0,95 persen siswa SMP/MTs yang tidak lulus ujian nasional (UN), tahun ini Provinsi Jawa Tengah sebagai Provinsi dengan jumlah siswa tidak lulus UN terbanyak. Hal itu terjadi karena jumlah siswa yang mengikuti UN di provinsi tersebut terbilang cukup banyak, yaitu mencapai 544.498 peserta.

Sementara itu, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) menjadi provinsi dengan persentase tidak lulus UN tertinggi. Tercatat 6,15 persen atau sama dengan 3.722 siswa yang tidak lulus UN 2011 dari 60.518 siswa yang ikut UN. Setelah Kalbar, presentase ketidaklulusan tertinggi ditempati Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang mencapai 3,32 persen atau 657.

Selanjutnya, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyusul dengan jumlah ketidaklulusan mencapai 2,61 persen atau sama dengan 1.919 siswa dan disusul kemudian oleh Provinsi Bangka Belitung sebanyak 2,16 persen atau 332 orang, serta Sumatera Barat sebanyak 1,85 persen atau 1.525 siswa.

"Kalau melihat dari jumlah siswa secara nasional, maka provinsi Jawa Tengah paling besar siswa yang tidak lulus UN, yaitu sebanyak 4.823 orang atau 0,95 persen," kata Mendiknas kepada wartawan, Rabu (1/6/2011), di Jakarta.

Untuk tahun 2011 ini ada 20.234 siswa SMP/MTS atau sekitar 0,55 persen siswa tidak lulus UN. Rata-rata siswa yang tidak lulus UN itu memperoleh nilai kurang dari 5.00. Sedangkan siswa yang berhasil lulus sebanyak 3.640.569 siswa atau 99,45 persen dari 3.660.803 siswa SMP/MTs yang mengikuti UN tahun 2011.

Mendiknas mengatakan, tingkat kelulusan UN tahun ini mengalami peningkatan sekitar 0,03 persen dibandingkan tahun lalu yang hanya mencapai 99,42 persen.

"Data awal peserta yang akan mengikuti UN berjumlah 3.714.216 siswa. Setelah itu sekolah kita minta untuk memasukkan nilai sekolah, dan ada 36.685 siswa tidak diberikan nilai dengan berbagai macam alasan. Jadi, tinggal 3.677.531 siswa. Dari sini ternyata semuanya tak ikut UN, yang ikut hanya 3.660.803 siswa," jelasnya.


Diolah dari : Kompas

More about → Kelulusan Ujian Nasional Terbanyak

UN Lebih Tepat untuk Pemetaan

Diposting oleh Unknown

Beberapa pakar pendidikan menilai, berbagai ingar-bingar ujian nasional (UN) yang mencuat belakangan ini bersumbu pada sistem UN yang tidak tepat. Digunakannya UN sebagai barometer penentu kelulusan dinilai tidak tepat karena akan memicu upaya kecurangan demi mencapai kelulusan.

"Akar masalahnya di situ, kalau UN dipakai sebagai alat pemetaan, saya pikir takkan ada masalah. Tetapi, jika dipakai sebagai alat kelulusan, maka semua orang akan mengejar itu. Lagi pula dananya terlalu besar, lebih baik untuk yang lain," ujar Dekan Fakultas Psikologi Universitas Bina Nusantara Johannes AA Rumeser saat ditemui Kompas.com, Rabu (15/6/2011) di Kemanggisan, Jakarta Barat.

Pria yang akrab disapa Jo ini lebih jauh menjelaskan, UN akan lebih baik jika hanya digunakan untuk pemetaan. Pasalnya, pemetaan akan sangat berguna sebagai upaya monitoring pemerataan pendidikan. "Karena pemetaan hanya digunakan sebatas evaluasi. Ketika UN digunakan untuk menentukan suatu kelulusan, maka memicu orang untuk melakukan kecurangan," tandasnya.

Ditemui sore hari sebelumnya, Koordinator Koalisi Pendidikan Lody Paat menegaskan, UN merupakan bentuk evaluasi pendidikan yang kontradiktif.

Menurut dia, UN hanya mendidik anak serta orangtuanya untuk berorientasi pada hasil. "Mereka hanya korban. Jika ada pelaku (kecurangan), maka pelaku sekaligus korban, korban dari sistem yang tragis," ujarnya.

Pakar pendidikan lainnya, Utomo Dananjaya, memandang, kasus ini adalah refleksi penegakan kebenaran dalam masyarakat yang telah bobrok. Menurut Utomo, UN hanya menghasilkan manusia-manusia yang permisif terhadap kecurangan. "Benahi dulu UN-nya," tegasnya singkat.


More about → UN Lebih Tepat untuk Pemetaan

Ujian Nasional

Diposting oleh Unknown on Minggu, 11 September 2011

Istilah Ujian Nasional terdiri dari 2 (dua) kata gabung yakni Ujian dan Nasional. Ujian mempunyai arti tes, yakni sejenis penilaian yang dimaksudkan untuk mengukur pengetahuan tes-taker itu, keterampilan, bakat, kebugaran fisik, atau klasifikasi dalam topik lain (misalnya, keyakinan). Sedangkan term Nasional menunjuk pada suatu kelompok manusia yang dianggap memiliki identitas bersama, dan mempunyai kesamaan bahasa, agama, ideologi, budaya, dan/atau sejarah. Mereka umumnya dianggap memiliki asal-usul keturunan yang sama.

Dalam aplikasinya di sekolah-sekolah di Indonesia istilah Ujian Nasional mengacu pada suatu sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan, Kemdiknas di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 yang menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Lebih lanjut dinyatakan bahwa evaluasi dilakukan oleh lembaga yang mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan dan proses pemantauan evaluasi tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan.


Penentuan standar yang terus meningkat diharapkan akan mendorong peningkatan mutu pendidikan, yang dimaksud dengan penentuan standar pendidikan adalah penentuan nilai batas (cut off score). Seseorang dikatakan sudah lulus/kompeten bila telah melewati nilai batas tersebut berupa nilai batas antara peserta didik yang sudah menguasai kompetensi tertentu dengan peserta didik yang belum menguasai kompetensi tertentu. Bila itu terjadi pada ujian nasional atau sekolah maka nilai batas berfungsi untuk memisahkan antara peserta didik yang lulus dan tidak lulus disebut batas kelulusan, kegiatan penentuan batas kelulusan disebut standard setting.

Ujian Nasional (UN) digelar untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasil UN digunakan sebagai:

1. Pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan;
2. Dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya;
3. Penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan; dan
4. Dasar pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.

Peserta UN merupakan siswa yang telah berada pada tahun terakhir di SMP, MTs, SMPLB, SMA, MA, SMALB, atau SMK. Peserta juga memiliki laporan lengkap penilaian hasil belajar pada SMP, MTs, SMPLB, SMA, MA, SMALB, atau SMK mulai semester I tahun pertama hingga semester I tahun terakhir.

Mereka yang memiliki ijazah atau surat keterangan lain yang setara atau berpenghargaan sama dengan ijazah dari satuan pendidikan yang setingkat lebih rendah, atau memiliki bukti kenaikan kelas dari kelas III ke kelas IV untuk siswa Kulliyatul-Mu’alimin Al Islamiyah (KMI)/Tarbiyatul-Mu’alimin Al Islamiyah (TMI) yang pindah ke SMA/MA atau SMK.

Standar Kelulusan Ujian Nasional

1. Memiliki nilai rata-rata minimal 5,50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan nilai minimal 4,00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya. Khusus untuk SMK, nilai praktik kejuruan minimal 7,00 dan digunakan untuk menghitung rata-rata UN; dan
2. Pemerintah Kabupaten/Kota dan atau satuan pendidikan dapat menetapkan standar kelulusan UN lebih tinggi dari criteria tersebut sebelum pelaksanaan UN.

Mata Pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional

Untuk UN SMA/MA mata ujian terdiri dari :

Program IPA

Matematika,
Bahasa Indonesia,
Bahasa Inggris,
Kimia,
Biologi, dan
Fisika

Program IPS

Matematika,
Bahasa Indonesia,
Bahasa Inggris,
Sosiologi,
Geografi, dan
Ekonomi

Program Bahasa

Matematika,
Bahasa Indonesia,
Bahasa Inggris,
Bahasa Asing lain yang diambil,
Sejarah Budaya/Antropologi, dan
Sastra Indonesia

Program Keagamaan

Matematika,
Bahasa Indonesia,
Bahasa Inggris,
Ilmu Tafsir,
Ilmu Hadis, dan
Ilmu Kalam.

Untuk UN SMK mata ujian terdiri dari :

Matematika,
Bahasa Indonesia,
Bahasa Inggris,
Teori Kejuruan, dan
Praktek Kejuruan

Untuk Tingkatan SMP/MTS diujikan seperti :

Matematika,
Bahasa Indonesia,
Bahasa Inggris,
IPA (Ilmu Pengetahuan Alam)

Sedangkan untuk Tingkatan SD/MI diujikan seperti :

Matematika,
Bahasa Indonesia,
IPA,

Kiat Sukses Ujian Nasional untuk Guru Pembimbing

Setiap tahun pelaksanaan UN memang selalu menjadi pembicaraan hangat bahkan kontroversi karena masih terdapat tindak kecurangan atau penyelewengan dalam pelaksaanaan UN, misalnya jual-beli soal atau jawaban yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu. Polemik makin berkepanjangan ketika banyak siswa yang tidak lulus UN, apalagi siswa-siswa yang tidak lulus tersebut adalah siswa-siswa yang berprestasi di sekolahnya.

Nilai UN yang dijadikan sebagai kunci apakah siswa lulus atau tidak setelah menempuh pendidikan selama tiga tahun memang menjadi hal yang dilematis bagi sekolah dan dinas yang terkait. Di satu sisi, ini merupakan sebuah program dalam meningkatkan kualitas kompetensi lulusan. Namun, di sisi lain, bila input siswa yang dimiliki kemampuannya minim, ditambah fasilitas yang kurang memadai dan kondisi-kondisi lainnya yang kurang menunjang untuk peningkatan kualitas siswanya, maka kekhawatiran akan hasil UN yang mengakibatkan banyaknya siswa tidak lulus adalah sangat beralasan.

Banyaknya siswa yang tidak lulus akan memengaruhi kredibilitas sekolah di mata masyarakat yang akan berdampak pada menurunnya minat orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Alhasil sekolah pun harus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan hasil UN. Di antara sekian strategi yang bisa dilakukan adalah, pertama, meningkatkan motivasi siswa. Motivasi adalah dorongan yang ada dalam diri seeorang. Bila seseorang memiliki motivasi tinggi maka seberat apa pun tantangan yang ada di hadapannya akan mampu ia atasi. Karena itu, menumbuhkan motivasi yang tinggi di siswa adalah langkah awal yang harus dilakukan.

Tentu saja tidak mudah untuk menumbuhkan motivasi atau gairah belajar yang tinggi di siswa ini. Diperlukan pendekatan khusus, mungkin bisa dimulai dengan pengklasifikasian siswa dari siswa yang memiliki high motivation sampai yang low motivation, lalu dibuat progress report-nya.

Lakukan proses penanganan per siswa, terutama yang memiliki motivasi belajar kurang sampai kemudian motivasi belajarnya itu muncul. Pendekatan psikologis secara personal di luar jam pelajaran dengan suasana yang rileks dan nyaman perlu dilakukan sehingga ada kedekatan dan keterbukaan antara siswa dan guru.

Strategi kedua, mengubah sistem pembelajaran. Sistem pembelajaran dalam menghadapi UN tentu saja harus berbeda dengan sistem pembelajaran sehari-hari. Selain pemberian materi juga diadakan pembahasan soal-soal, bahkan setiap akhir minggu atau akhir bulan sebaiknya dilakukan try out untuk mengukur sampai di mana kompetensi yang telah dikuasai siswa.

Pembelajaran akan lebih mudah kalau menggunakan sistem kerja tim untuk guru dan sistem kelompok belajar untuk siswa. Kelompok siswa ditentukan oleh nilai hasil try out. Siswa yang mendapat nilai di atas standar disatu-kelompokkan dan yang kurang dibuat kelompok yang lain. Dampak negatifnya siswa yang dalam kelompok kurang akan merasa tersisih, tapi ini bisa disiasati dengan memberikan dukungan dan motivasi bahwa mereka mampu dan mereka pun dituntut untuk masuk ke kelompok yang mendapat nilai bagus. Pembuatan kelompok ini dilakukan untuk mempermudah pembahasan terhadap materi pelajaran yang tidak di kuasai siswa.

Ketiga, meminta dukungan dari orang tua siswa. Sekolah harus terus berkoordinasi dengan orang tua mengenai program-program dalam mempersiapkan UN. Diharapkan partisipasi orang tua secara aktif dalam membantu anak-anaknya terutama dalam pemberian motivasi dan pengawasan belajar di rumah.

Keempat, berdoa. Doa merupakan perwujudan permohonan seseorang kepada Allah agar diberi kemudahan. Efek dari doa juga melahirkan ketenangan dan ketawakalan. Ini penting karena dalam persiapan dan pelaksaan UN kondisi ketenangan berpengaruh dalam proses pengisian soal. Karena itu, dorong siswa agar lebih memperbanyak doa.

Mudah-mudahan dengan langkah-langkah di atas pelaksanaan UN memberikan pelajaran yang berharga bagi siswa, tidak hanya mendapat nilai yang sesuai dengan standar kelulusan, tapi juga merasakan bagaimana sikap harus bekerja keras untuk memperoleh sesuatu dan juga meningkatkan sikap takwa.

Terlepas dari itu, menurut penulis sebaiknya kelulusan seorang siswa tidak hanya ditentukan oleh nilai UN yang hanya diwakili oleh beberapa mata pelajaran. Alangkah lebih baiknya kalau kelulusan ditentukan melalui beberapa indikator, di antaranya hasil nilai UN, nilai rata-rata akhir semua mata pelajaran, prestasi ekstrakurikuler, dan sikap siswa baik secara mental maupun perilaku. Semoga pendidikan kita bisa menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

UN bukan Ukuran Keberhasilan Pendidikan

Ujian Nasional (UN) cenderung dipahami secara salah oleh para orang tua, kepala sekolah, dan pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan. Hal ini termanifestasikan dari banyaknya orang yang berlomba-lomba mengondisikan anaknya atau siswa sekolah agar meraih nilai bagus dalam UN. Padahal sesungguhnya nilai bagus dalam UN bukanlah jaminan yang layak dijadikan ukuran bagi keberhasilan pendidikan. Selama ini terjadi “salah persepsi” secara nasional terhadap kegiatan UN. Akibat salah persepsi itu, maka target UN pun menjadi beban para siswa, guru, dan kepala sekolah. Tingkat kelulusan dan nilai bagus UN seolah-olah cerminan kinerja pimpinan sekolah yang baik. Padahal bagus atau tidaknya kepimpinan sekolah tidak hanya itu.

Fenomena UN adalah gambaran kepanikan para kepala sekolah dan guru serta pihak terkait lainnya. Ini tercermin dari adanya berbagai upaya agar siswanya meraih nilai bagus dalam UN. Jika nilainya bagus, maka diharapkan ada penilaian bagus pula dari atasannya. Seandainya penyelenggaraan pendidikan khususnya pola UN masih seperti ini, kita pesimistis terhadap kemajuan program pendidikan nasional.
More about → Ujian Nasional

Bahasa Indonesia Salah satu Mapel UN Sulit

Diposting oleh Unknown on Minggu, 04 September 2011

Kemendiknas akan meningkatkan kompetensi guru dalam mengajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini karena pada pelaksanaan Ujian Nasional (UN) 2011 pelajaran Bahasa Indonesia menjadi salah satu mata pelajaran yang tingkat ketidaklulusannya tinggi.


Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendiknas Agus Dharma mengatakan, Kemendiknas masih mengkaji penyebab tingginya jumlah siswa yang tidak lulus UN pada nilai Bahasa Indonesia.

Memang hasil kajiannya masih belum rampung, namun dirinya menduga kemungkinan besar kesalahan terletak pada cara mengajar yang kurang menarik. Sebagaimana diketahui, penyebab ketidaklulusan siswa SMA pada pelaksanaan UN 2011, di antaranya Bahasa Indonesia, selain Matematika.

Sebanyak 2.391 siswa hanya mampu mencapai nilai Matematika kurang dari empat, 1.786 siswa mengalami nasib sama dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.
More about → Bahasa Indonesia Salah satu Mapel UN Sulit

Sekitar 1.450.498 Siswa SMA Lulus UN 2011

Diposting oleh Unknown

Sebanyak 1.450.498 siswa SMA dan MA di seluruh Indonesia dinyatakan lulus ujian nasional (UN) 2011. Tingkat kelulusan tersebut mencapai 99,22 persen atau naik 0,18 persen dari tahun lalu.

"Dari 1.467.058 peserta UN SMA dan MA, 1.450.498 atau 99,22 persen dinyatakan lulus," ujar Menteri Pendidikan Nasional, M Nuh, dalam jumpa pers di kantornya, Jl Sudirman, Jakarta, Jumat (13/5/2011).

Meski telah dinyatakan lulus dari UN, siswa-siswi tersebut belum tentu lulus dari jenjang SMA. UN, lanjut Nuh, merupakan salah satu syarat kelulusan saja. Kelulusan mereka masih ditentukan oleh pihak sekolah masing-masing.

"Lulus UN belum tentu lulus sekolah. Tiap satuan pendidikan masih akan melihat beberapa hal. Misalnya semua program sudah diikuti, apakah berkepribadian baik dan berakhlak mulia serta ujian nyanyi atau muatan lokal lainnya lulus atau tidak," jelasnya.

Meski demikian, jika sudah tidak lulus dalam UN, dipastikan siswa tersebut juga tidak lulus dari sekolahya. Tahun ini siswa yang tak lulus UN mencapai 11.443 siswa.

"Ada lima sekolah yang 100 persen muridnya tidak lulus," katanya.

Nuh enggan membeberkan sekolah mana yang dimaksud. Menurutnya, pengumuman hasil UN ini menjadi kewenangan masing-masing sekolah.

"Ini masih dalam proses pengiriman. Tiap satuan pendidikan nanti yang akan mengumumkan siapa saja yang lulus atau tidak lulus," kata Nuh.

Sementara untuk program kejuruan, tingkat kelulusan UN mencapai 99,51 persen atau 938.043 siswa. Sebanyak 4.655 siswa dinyatakan tak lulus UN. Pengumuman kelulusan akan dilakukan oleh masing-masing sekolah pada 16 Mei 2011.
More about → Sekitar 1.450.498 Siswa SMA Lulus UN 2011

Kisi-kisi UN SMK Teknologi Logam

Diposting oleh Unknown on Rabu, 10 Agustus 2011

Metalworking is the process of working with metals to create individual parts, assemblies, or large scale structures. The term covers a wide range of work from large ships and bridges to precise engine parts and delicate jewelry. Metalworking is a science, art, hobby, industry and trade. Its historical roots span cultures, civilizations, and millennia. Metalworking has evolved from the discovery of smelting various ores, producing malleable and ductile metal useful for tools and adornments. Modern metalworking processes, though diverse and specialized, can be categorized as forming, cutting or joining processes. Today's machine shop includes a number of machine tools capable of creating a precise, useful workpiece.


Curtain Walling Metal Technology

Curtain walling metal technology refers to a system of curtain walling that is developed and designed by Metal Technology, a reputed name in window and door systems. It is suitable for high rise and low rise applications.
Windows and doors manufactured by curtain walling metal technology are attractive and have clean lines which are capable to enhance all types of office and commercial facades as demanded by modern building technology.
This high rise curtain wall system is designed as a stick system by this system. This type of design allows millions and transoms to be transported to site as prepared components and the grid work is assembled onto the building in stick form.
Carefully designed fixing brackets allow the them to be fixed back to the structure easily and securely so that all loads are transferred back to the buildings main structural form. Expansion joints are allowed on every floor or every other floor to accommodate any building movement by them.
In a case where curtain walling is required for low rise developments this system 8 low rise is preferred. In order to help flood the buildings with light, they have used System 17 high rise curtain wall, along with its Latitude curtain walling, System 8 low rise and System 10 glazed doors.

Download Kisi-kisi UN SMK - Vocational Theory



This system offers a wide range of caps and profiles that allow the designer to select a profile to meet the design requirements of the project.
For example, they offer the Latitude system which particularly gives a strong horizontal focus and is excellent in drawing attention and drama to a glass elevation.
Curtain walling metal technology [http://www.everglade-architectural.co.uk/curtain-walling-metal-technology.asp] also can design and supply bespoke profile options giving the architect greater scope in his design.
Metal Technology has a wide retail portfolio with blue chip clients such as Asda, Tecso, Homebase etc in many parts of the UK and Ireland.

More about → Kisi-kisi UN SMK Teknologi Logam

Kisi-kisi UN SMK Teknologi Mesin

Diposting oleh Unknown

Conventional machining is a collection of material-working processes in which power-driven machine tools, such as saws, lathes, milling machines, and drill presses, are used with a sharp cutting tool to mechanically cut the material to achieve the desired geometry. Machining is a part of the manufacture of almost all metal products, and it is common for other materials, such as wood and plastic, to be machined. A person who specializes in machining is called a machinist. A room, building, or company where machining is done is called a machine shop. Much of modern day machining is controlled by computers using computer numerical control (CNC) machining. Machining can be a business, a hobby, or both.


The latest Machine Vision technology helps manufacturing operations by increasing productivity and effectively eliminating costly production errors.
Can this technology deliver results for your business? This article will help answer that question.
Machine Vision: What is it?
This sophisticated technology applies computerized vision to manufacturing processes replacing manual inspection. It's essentially a precise electronic replacement for less-than-perfect human visual inspection.
Using small cameras with self-contained computers, these systems are able to automatically extract highly detailed information from digital images.
Decision making
Error detection
Manufacturing processes validation
Quality testing
What Type of Inspections Can These Systems Perform?
Machine Vision Systems are extremely reliable and precise.
Flaw detection
Part identification
Barcode reading
Object location
Absence/presence detection
Precision measurement
What are the Tangible Benefits of Using Machine Vision Systems?
These systems deliver unsurpassed manufacturing accuracy and productivity. Measurable benefits include:

Download Kisi-kisi UN SMK - Vocational Theory



Reduced material costs as error related scrap is eliminated
Reduced labor costs (recruitment, training, pay and benefits) since manual inspections are eliminated
Reduced quality-related costs (repairs, returns, warranty work, customer confidence erosion) as the result of a more consistent and accurate inspection process.
What Industries Are Benefiting from This Technology?
Because of the reliability, precision and versatility of these systems, many diverse industries have successfully deployed these systems including life sciences, food production, pharmaceutical, high-tech manufacturing, medical and printing.
Given the advantages of Machine Vision Systems, you should explore how the technology can be applied to your business.

More about → Kisi-kisi UN SMK Teknologi Mesin

Kisi-kisi UN SMK Teknologi Komunikasi

Diposting oleh Unknown

"ICT" is used as a general term for all kinds of technologies which enable users to create, access and manipulate information. ICT is a combination of information technology and communications technology. In an increasingly interconnected world, the interactions among devices, systems, and people are growing rapidly. Businesses need to meet the demands of their employees and customers to allow for greater access to systems and information. By offering a scalable infrastructure, cloud computing models enable companies to work smarter through more agile and cost-effective access to technology and information. This unified platform reduces costs and boosts productivity across a business and beyond. Part of an information and communications technology roadmap should involve consolidating infrastructures, while providing added benefits to users in collaboration, messaging, calendaring, instant messaging, audio, video, and Web conferencing. Cloud computing is driving more efficient IT consumption and delivery and taking ICT to the next level.


Every successful business needs to have the best communication equipment available on the market. If you can't properly communicate with your different branches, then your efficiency will take a big hit. Communicating isn't that hard though. There have been many advances in the past few years that grant great advantages to your efforts.
One of the easiest would be in the form of a simple teleconference through something like the polycom soundstation. It's basically just one big conference, except you don't need to pack everyone into one board room. There are a number of advantages to this setup. The first is that you are in a perfect position to take full advantage of telecommuting. Any of your remote workers can just press a few buttons and log into the conference from their home phone. This also works for any remote branches who want to be involved. There are nearly countless benefits to having one installed. There is also the usual ability to tape the conference for better archiving. Avaya IP office phones will work in this capacity to make everything function a bit better.
It is important that you take the time to setup the connection properly though. There is no reason to buy an inferior product for your teleconference. If you go cheap and don't have it professionally installed, then the static and poor pickup will effectively ruin any good conference. The Polycom system works to give you a large microphone range which should be able to handle any small or medium room. There are other options though. Just a basic search online will show a number of companies who want your business.

Download Kisi-kisi UN SMK - Vocational Theory



You could go with a phone system through Avaya partner ACS. They offer similar setups for your conference needs. Check to see who has local branches and then see whether one of their products fits your capacity needs better. It's hard to tell you what's the best without understanding your exact situation. These two companies should be a good place to start though. Just one phone call could let you start having teleconferences that make everything run smoother and more efficiently.

More about → Kisi-kisi UN SMK Teknologi Komunikasi

Kisi-kisi UN SMK Kesehatan

Diposting oleh Unknown

Generally, the context in which an individual lives is of great importance on health status and quality of life. It is increasingly recognized that health is maintained and improved not only through the advancement and application of health science, but also through the efforts and intelligent lifestyle choices of the individual and society. According to the World Health Organization, the main determinants of health include the social and economic environment, the physical environment, and the person's individual characteristics and behaviors


What is health? How can it be promoted and made more appealing? These and many other challenging health and wellness questions were addressed in a freewheeling gathering at the Bell Harbor Conference Center in Seattle on November 3rd-and I was delighted to be one of the invitees. It was called the Health 3.0 Summit: A Convergence of People, Vision and Design. It was sponsored by the University of Washington, the Franciscan Hospice, Evergreen State University, Seattle Children's Hospital and many other private and public institutions.
The "Health 3.0 Movement" in the State of Washington was designed to change the face of health in that state. The underlying goal was expressed as "framing out the creative space that is Health 3.0 by generating a set of questions that we can use to engage people in designing a better health future for themselves and their communities." A daunting challenge, perhaps but the leaders believed their movement was animated by a vision of the potential of people. If "We the People decide it's time for a change, amazing things can happen." The sense in Seattle was that this can be done now "because change is coming-and this time it needs to be about us."
The so-called "timeless questions" included these:
* How do we make health more delicious and sexy and get better outcomes?
* What questions do we need to be asking and working on to engage people in designing a better health future for themselves and their communities?
My first thought was, "If health were more delicious and sexy, perhaps we'd be getting REAL wellness outcomes. For most, I don't think delicious or sexy come to mind when thinking about their health, which most do only when they lose it.
I believe the capacity for strong imagery is associated with the ability to ask good questions that lead to clear thinking and innovative pathways. That is the promise in the efforts to settle on effective question leading to solutions.
Let's assume that somehow "sexy and delicious" images of health would lead to better choices. Being well probably makes everything taste better and allows all life's pleasures, including those best sampled without textiles, to seem more delightful. Could anyone disagree? Just think of the person without health, someone in pain or disabled or diseased. Whether self-induced, inflicted by cruel fate or inexorable aging, the person in this state can't taste the same delicious flavors life affords as can those at the apex of good physical, emotional and mental health.
Now to the other part of the question-the first sentence: "HOW" do we make health more delicious and sexy?
Health is what it is, a subjective state perceived in varied ways based upon culture, education, opportunities and more. I suggest a variation of the question: "How do we make the attitudes, behaviors, commitments and supports that we believe are associated with the ways in which we view health more delicious and sexy?" Better yet, let's drop delicious and sexy and make the question: "How do we make the attitudes, behaviors, commitments and supports needed for well being and a high quality of life a priority for people everywhere in America, regardless of their circumstances?"
Let's frame health in relation to outcomes that everyone cares about, such as finding more happiness, better dealing with ethical issues, thinking critically in order to make wise decisions on key subjects (investments, beliefs, etc.) and maintaining high fitness levels, protecting and expanding personal freedoms and choices, finding added meaning on a daily basis and so on. Does this have appeal?
Let's keep in mind that if advancing a REAL wellness agenda tied to quality of life were easy, there would be plenty of it and little of risk reduction and medical management. One of the attractions of a focus on exuberance in all its forms is that it is pioneering work, with commensurate returns that could make a big difference in human outcomes.

Downloan Kisi-kisi UN SMK - Vocational Theory



We want to give practical answers about positive wellness, that is, people doing things, learning things that boost their quality of life in non-medical ways. Can we agree that the health system should be given this direction, a direction that is more about enhanced living than eliminating illness and risks of disease?
The other challenge was, "What questions do we need to be asking and working on to engage people in designing a better health future for themselves and their communities?"
Is it, "How do I achieve my optimal weight?" Is it, "What's my ideal percentage of body fat?" Do you have any ideas about the most important of all wellness questions?
I think the most important wellness question relates somehow to the quest for a strong sense of what it (life) is all about, what are you doing here, what are your purposes and your mission. This quest is a form of asking, "What is the meaning of life," or at least "How can I find a continuing sense of meaning and purpose in the way I live, work and define my existence?" This search for meaning defines or certainly affects lifestyle choices-asking this question is not an isolated philosophical parlor game. For that reason, and because it is so rich in possibilities that could lead to positive satisfactions and advances of a psychological nature, I'd put it at the top of my list of candidate questions about what is most important.
Of course, the logical follow-up question most likely would be, "If this is such a great question, what is the most important ANSWER?"
Fair enough, but what if there IS no answer-at least not the same answer for everybody?


More about → Kisi-kisi UN SMK Kesehatan

Kisi-kisi UN SMK Pertanian Bagian Kedua

Diposting oleh Unknown

Agriculture has played a key role in the development of human civilization. Until the Industrial Revolution, the vast majority of the human population labored in agriculture. The type of agriculture they developed was typically subsistence agriculture in which farmers raised most of their crops for consumption on farm, and there was only a small portion left over for the payment of taxes, dues, or trade. In subsistence agriculture cropping decisions are made with an eye to what the family needs for food, and to make clothing, and not the world marketplace. Development of agricultural techniques has steadily increased agricultural productivity, and the widespread diffusion of these techniques during a time period is often called an agricultural revolution. This also led to technological improvements in agricultural techniques, such as the Haber-Bosch method for synthesizing ammonium nitrate which made the traditional practice of recycling nutrients with crop rotation and animal manure less necessary.


The Importance of Agriculture

Agriculture usually plays a vital role in the economy of every nation that exists. A country is usually considered to be a social and politically stable nation if it possesses a very stable agricultural basis.
A stable agricultural industry ensures a country of food security. No nation can effectively grow with a stable agricultural base while harboring a nation of "hungry people", as these hungry people can do nothing what-so-ever towards helping develop their country. Food security prevents starvation which has traditionally been considered one of the largest problems being experienced by the small developing nations. Most countries depend upon agricultural products and related industries for their major source of income. Even the newly developing countries will find that they depend upon and can benefit greatly from their agricultural industry.
Aside from the crops and animals that are produced by the farmers who make up a country agricultural sector the agricultural field represents the main source of employment within most countries. The larger farms usually find it necessary to hire additional hands in which to successfully cultivate the lands and to take care of the related farm animals. Most of these large farms have processing plants located in nearby facilities for finalizing their agricultural products and developing the by-products. It goes without saying that these sub-industries employ considerable man-power within their operations. Most of the modern farms and agriculture-related industries make good use of today's modern equipment as well as the principles of science and technology.

Download Kisi-kisi UN SMK Pertanian Part 2 - Vocational Theory


5174-KST-Budidaya Tanaman Buah Semusim
5183-KST-Agribisnis Tanaman Perkebunan
5218-KST-Budidaya Tanaman Pangan
5227-KST-Teknik Budidaya dan Pengolahan Perikanan
5236-KST-Budidaya Ikan Air Laut
5245-KST-Penyuluhan Pertanian
5254-KST-Perawatan Kesehatan Ternak
5263-KST-Agribisnis Tanaman Pangan dan Holtikultura
5272-KST-Agribisnis Pembibitan Tanaman dan Kultur Jaringan
5289-KST-Agribisnis Perikanan
5298-KST-Agribisnis Aneka Ternak

The country's farmers who can utilize the modern technologies involved with farming can assure a good production of their products which benefits their country as a whole. Modern farming technologies would be useless if the farmers are not competent enough to use any of the technology that they have available to them.
Most of the older industrialized cites have begun their growth primarily through the development of agriculture. These cities have done well on an agriculture basis before they fully begun to embrace the industrialization process. Most of the principles currently in use within our modern businesses have their roots stemming from the principles of agriculture. Bulk manufacturing is one of the practices that have been patterned from the seasoned harvesting often found in the area of agricultural practices. This method has saved many ancient cities from destruction during times of plague and drought. During the ancient times the countries harvested crops which were not merely used for immediate consumption but were often harvested and stored for future use. The same thing is practiced within the modern business procedures to ensure its stability.
Agriculture is usually common in rural areas which have the most arable lands, however with the modern technologies involved in farming agricultural activities are totally possible even in the urban areas. These activities can be accomplished to sustain personal or family needs or even for commercial purposes.

More about → Kisi-kisi UN SMK Pertanian Bagian Kedua

Kisi-kisi UN SMK Pertanian Bagian Pertama

Diposting oleh Unknown

Agriculture is the cultivation of animals, plants, fungi and other life forms for food, fiber, and other products used to sustain life. The study of agriculture is known as agricultural science. Agriculture is also observed in certain species of ant and termite, but generally speaking refers to human activities.
The history of agriculture dates back thousands of years, and its development has been driven and defined by greatly different climates, cultures, and technologies. For plants, this usually requires some form of irrigation, although there are methods of dryland farming; pastoral herding on rangeland is still the most common means of raising livestock. In the developed world, industrial agriculture based on large-scale monoculture has become the dominant system of modern farming, although there is growing support for sustainable agriculture (e.g. permaculture or organic agriculture).
Modern agronomy, plant breeding, pesticides and fertilizers, and technological improvements have sharply increased yields from cultivation, but at the same time have caused widespread ecological damage and negative human health effects. The major agricultural products can be broadly grouped into foods, fibers, fuels, and raw materials. Specific foods include cereals, vegetables, fruits, and meat. Fibers include cotton, wool, hemp, silk and flax. Raw materials include lumber and bamboo. Other useful materials are produced by plants, such as resins. Biofuels include methane from biomass, ethanol, and biodiesel. Cut flowers, nursery plants, tropical fish and birds for the pet trade are some of the ornamental products.
The services sector has overtaken agriculture as the economic sector employing the most people worldwide.



Download Kisi-kisi UN SMK Pertanian Part 1 - Vocational Theory


5023-KST-Budidaya Ikan Air Tawar
5032-KST-Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian
5049-KST-Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan
5058-KST-Mekanisasi Pertanian
5067-KST-Agribisnis Rumput Laut
5085-KST-Pembibitan Tanaman
5094-KST-Agribisnis Ternak Ruminansia
5103-KST-Budidaya Ternak Unggas
5112-KST-Budidaya Ikan Air Payau
5129-KST-Kehutanan
5138-KST-Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian Non Pangan
5156-KST-Pengawasan Mutu
5165-KST-Budidaya Tanaman Sayuran

Kisi-kisi UN SMK Pertanian Part 2

Job Descriptions

The agriculture sector is very popular for offering job opportunities to a large number of people. There are several jobs available in the agriculture sector, which is considered to be the main source of livelihood for many people even today. So if you are also looking for agriculture jobs, then quickly have a look at the various agriculture jobs that are available today.
Unlike in the yester years, today, there are several degree colleges, post-graduate colleges as well as universities that are conducting research work on agriculture. You can join these colleges and universities as an Agriculture Research Scientist or an Agriculture Development Officer. Also, there are several private organizations looking for Research Scientist. The main objective of an Agriculture Research Scientist is to find out ways for increasing the level of agricultural output by way of increasing the quantity of soil nutrients, making plants resistant to pests and other diseases, and so on.
Apart from these, there are several other job opportunities in agriculture. Some of them include labeling, farm management, land appraisal, packaging, and so on. Some other jobs in the agriculture sector include the following:

• Ranchers and Farmers: Ranchers raise livestock for the production of eggs, meat and dairy products. On the other hand, farmers are responsible for growing crops meant for consumption.
• Fishers: Fishers are responsible for catching wild fish. They usually work on oceans as well as rivers on boats.
• Foresters: Foresters help in organizing reforestation work. They are also responsible for treating the diseased trees. • Agriculture Managers: They are responsible for supervising the daily activities of the laborers in big fisheries, farms, ranches and timber tracts and also for looking after the operation of the business as a whole.
• Agricultural Laborers: They are people who work in farms and are responsible for preparing the soil, planting seeds, farming or lumbering, applying proper fertilizers and pesticides, and harvesting the crops. Those who work in fisheries or ranches are responsible for feeding the animals or fish and also for milking cows, collecting eggs, and so on.
These are some of the popular agriculture jobs that are available today. Sounds interesting, isn't it? So just go through these job openings and get your dream agriculture job today!
More about → Kisi-kisi UN SMK Pertanian Bagian Pertama

Kisi-kisi UN SMK Akuntansi

Diposting oleh Unknown

Accountancy is the process of communicating financial information about a business entity to users such as shareholders and managers. The principles of accountancy are applied to business entities in three divisions of practical art, named accounting, bookkeeping, and auditing.
Accountancy is defined by the Oxford English Dictionary (OED) as "the profession or duties of an accountant".
Accounting is defined by the American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) as "the art of recording, classifying, and summarizing in a significant manner and in terms of money, transactions and events which are, in part at least, of financial character, and interpreting the results thereof."
Accounting is thousands of years old; the earliest accounting records, which date back more than 7,000 years, were found in Mesopotamia (Assyrians). The people of that time relied on primitive accounting methods to record the growth of crops and herds. Accounting evolved, improving over the years and advancing as business advanced.



Early accounts served mainly to assist the memory of the businessperson and the audience for the account was the proprietor or record keeper alone. Cruder forms of accounting were inadequate for the problems created by a business entity involving multiple investors, so double-entry bookkeeping first emerged in northern Italy in the 14th century, where trading ventures began to require more capital than a single individual was able to invest. The development of joint stock companies created wider audiences for accounts, as investors without firsthand knowledge of their operations relied on accounts to provide the requisite information. Today, accounting is called "the language of business" because it is the vehicle for reporting financial information about a business entity to many different groups of people. Accounting that concentrates on reporting to people inside the business entity is called management accounting and is used to provide information to employees, managers, owner-managers and auditors. Management accounting is concerned primarily with providing a basis for making management or operating decisions. Accounting that provides information to people outside the business entity is called financial accounting and provides information to present and potential shareholders, creditors such as banks or vendors, financial analysts, economists, and government agencies. Because these users have different needs, the presentation of financial accounts is very structured and subject to many more rules than management accounting. The body of rules that governs financial accounting in a given jurisdiction is called Generally Accepted Accounting Principles, or GAAP. Other rules include International Financial Reporting Standards, or IFRS, or US GAAP.

Download Kisi-kisi UN SMK - Vocational Theory



Accounting Information System

Accounting information system is a system of records, usually computer based, which combines accounting principles and concepts with the benefits of an information system and which is used to analyze and record business transactions for the purpose to prepare financial statements and provide accounting data to its users. Some accounting information systems are still manual, i.e. accounting records are made with a pen, paper and manual entries into accounting books.
How are Such Systems Used?
These systems can be customized to meet the needs of a business. For example, information technology professionals responsible for business processes and information technology professionals responsible for the accounting information system can work together to develop and implement such a system so that it automatically gets information from other sources already in use by the business. Also, the systems can be set up to feature certain functions that are important to the business and eliminate functions minor to the business. Information can be automatically fed, or manually fed into a business accounting information system at whatever pace and however often it is necessary.
What are the Benefits of Using Accounting Information System?
Businesses use accounting information systems to make their accounting activities easier, quicker, and more accurate, since accounting records are analyzed and financial statements are prepared within the system, which allows to safe time of employees and avoid mistakes. Since many accounting information systems are equipped with error-reducing mechanisms and gather information regarding transactions electronically and automatically, data entry and computing errors are rare. Also, as mentioned above, since such systems are often automatically populated with transaction information, many accounting processes are less cumbersome and time-consuming when using such system.
Also to consider whether business needs accounting information system and what kind of system is required thorough analysis of business and accounting processes has to be made to determine precise requirements.
More about → Kisi-kisi UN SMK Akuntansi

Kisi-kisi UN SMK Penjualan

Diposting oleh Unknown

The seller or salesperson – the provider of the goods or services – completes a sale in response to an acquisition or to an appropriation or to a request. There follows the passing of title (property or ownership) in the item, and the application and due settlement of a price, the obligation for which arises due to the seller's requirement to pass ownership. Ideally, a seller agrees upon a price at which he willingly parts with ownership of or any claim upon the item. The purchaser, though a party to the sale, does not execute the sale, only the seller does that. To be precise the sale completes prior to the payment and gives rise to the obligation of payment. If the seller completes the first two above stages (consent and passing ownership) of the sale prior to settlement of the price, the sale remains valid and gives rise to an obligation to pay.


Difference Between a Short Sale and a Foreclosure

If you have been considering investing in a foreclosed home or short sale there are some details you might want to know before taking the plunge. Here are the main differences between a short sale and foreclosure.
There is a difference between a short sale and foreclosure. A short sale is when the homeowner can no longer afford the home and needs to move. They may have already tried to sell the home themselves and recoup what they have invested in the home but when the home is not worth as much as the owner owes on the home, they can opt for a short sale. A Short Sale is when the homeowner contacts the bank holding the note to the home and informs them of their situation. The bank will usually work with the owner to keep the home and the payments current as much as they can. Banks are not in the real estate business and don't like to take back a home that has not been paid for. When the homeowner tells the bank they cannot afford the home any longer and they can't sell it on their own, the bank will agree to a short sale meaning the bank will agree to take less on the home to get the owners out of the home as fast as possible. The bank is taking a hit but because of the communication from the owners to the bank, there is less damage on the credit report of the home owners.
It is typically where the bank won't work with the owners or the owners have simply given up on trying to keep the house or their credit in good standing. The owner simply stop making payments and there is foreclosure notice on the home at this point. The homeowners typically have 3 months to vacate the home and move on with their credit in a wreck. The home is typically in shambles because if the home owner didn't care enough about their lasting credit score, they are not much concerned with a temporary home at this point. Some homes are in bad need of repair and TLC.

Download Kisi-kisi UN SMK - Vocational Theory



Foreclosure homes are usually not going to have the bank fix much of anything and if you choose to buy one, be prepared for some major remodeling. Short sales on the other hand may still be in a decent state depending on the homeowner themselves. They usually get to live in the home until it sells and no one will come to evict them until the sale closes. The owners do not have a say in the sale though. All offers are directed to the bank for approval and even though it's a "short" sale, it can take up to 9 months to close.
There are many good deals to be found in foreclosures and short sales. For a complete list of short sales and foreclosures in the Alabama homes area consider checking out Exit Realty of the Valley. They are experts in helping buyers find and buy all Huntsville real estate and property.

More about → Kisi-kisi UN SMK Penjualan
Flag Counter